Pagi itu saya mengunjungi sebuah kantin disudut kota, cuaca cerah tapi masih cukup sejuk kalau tidak dingin. Menunggunya bertugas disabtu pagi tanpa punya ide mau ngapain. Saya pesan kopi hitam, panas lengkap dengan 2 tangkap roti, lumayan untuk ganjel perut pikir saya.
Harumnya kopi menyeruak, saya seruput, rasakan pahit manisnya, panas panas sedap.
Seperti eyang saya, saya juga suka mencelup roti ke kopi panas. Saya nikmati paduannya, memang tidak salah selera orang dulu, tau saja menikmati hidup.
Bulan April, datang tergesa gesa.
Saya buka facebook, membaca status man-tereman, sabtu pagi biasanya banyak kabar baik kalau tidak sapaan dari teman lama. Satu yang baik yang saya catat, dari akun CS Lewis, begini statusnya:
“I do not think the forest would be so bright, nor the water so warm, nor love so sweet, if there were no danger in the lakes.”
~ Out of the Silent Planet
Ada juga yang baru dilamar dipulau komodo, ceritanya romantis tapi sayang saya tidak ingat mungkin karena saya tidak cukup romantis untuk mengingat detailnya
Tapi saya ingat, saya begitu menikmati saat itu.
"being alone is underrated"
Ringtone Life in Technicolor II berbunyi, lumayan lama, kadang saya begitu menikmati lagu ini sampai saya malas menekan tombol answer dan mengangkat telepon.
Seterusnya:
bak bik buk...
jam 3 sore pun datang, tidak terburu buru
Saya melihatnya.. panik dan cantik.
Tidak apa sayang, saya menikmati saat bersamamu dan keluargamu.
"Time takes her time"
Sore itu saya dan dia sekedar jalan dijogging-trek tengah kota, saya nyeker dia pake celana panjang.
Memang tidak niat sebenarnya tapi kok malah nikmat, apalagi habis nyemil 1kg daging dewa berdua (ini baru romantis!), rasanya nikmat lemak ini dibakar.
Tak terasa malampun beranjak, pembicaraanpun semakin dalam. Ya duduk dirumput dipinggir lapangan, dibawah (dia bilang) bintang yang saya yakin bukan tapi planet entah apa, mengobrol terasa berbeda. Kejujuran mengalir, tidak terantisipasi. Banyak orang lewat, kebanyakan orang tua. Opa opa dengan teman seperjoggingannya, ada juga kucing, cantik tapi jual mahal.
Saya tahu dia benci kucing dan saya terus meyakinkannya kucing itu adiknya harimau, jadi bukan hewan yang manja. Bukannya tidak suka anjing, kenapa saya dipaksa memilih kalau saya suka dua duanya. Saya suka anjing dan saya juga suka kucing.
Saya selalu suka bersamanya, saya juga menikmati kesendirian saya.
Malamnya dia mengantar keairport dan setelah dipesawat saya baru sadar, hati saya ketinggalan

No comments:
Post a Comment